Beranda | Artikel
Sebab-Sebab Terwujudnya Keamanan Negeri dan Rakyat
3 hari lalu

Sebab-Sebab Terwujudnya Keamanan Negeri dan Rakyat adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani Al-Jazairi Hafidzahullah dan penerjemahan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Ahad, 22 Safar 1448 H / 8 Agustus 2026 M.

Tabligh Akbar Tentang Sebab-Sebab Terwujudnya Keamanan Negeri dan Rakyat

Sebagian negeri kaum muslimin merasakan kondisi keamanan yang sangat minim. Sebagian masyayikh di Arab Saudi pernah menceritakan keadaan tersebut. Ada yang ketika keluar untuk melaksanakan shalat tarawih harus membawa senapan, karena keadaan tidak aman dan ada musuh yang mengintai.

Di negeri ini, orang dapat keluar dari rumah untuk melaksanakan shalat Subuh, shalat Isya, lalu kembali dengan aman. Mereka tidak membawa senjata. Banyak orang pagi ini berangkat dari rumah, meninggalkan anak dan istri tanpa rasa khawatir, dan insyaAllah kembali dengan aman.

Sebagian orang yang telah terbiasa hidup aman memandang keamanan sebagai perkara biasa, bukan nikmat yang sangat istimewa.

Tuntutan utama seluruh tatanan masyarakat dan negara ada dua: keamanan serta sumber makanan dan rezeki. Keduanya merupakan kebutuhan paling penting di setiap negara.

Karena itu, setiap negara memiliki kementerian pertahanan untuk menjaga stabilitas keamanan, dan kementerian ekonomi untuk menjaga kestabilan ekonomi.

Doa Nabi Ibrahim untuk Keamanan dan Rezeki

Nabi Ibrahim, kekasih Allah ‘Azza wa Jalla, safar dari negeri Syam menuju Makkah. Saat itu, Makkah tidak berpenghuni dan tidak memiliki apa-apa. Atas perintah Allah, beliau membawa istrinya, Hajar, lalu meninggalkannya bersama putranya, Ismail, di tempat tersebut. Hal itu dilakukan karena tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagai pelajaran bagi diri beliau dan pendidikan bagi istrinya agar selalu bertawakal kepada Allah. Lalu beliau berdoa dengan dua doa:

رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

“Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Baqarah [2]: 126)

رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

Dalam doa ini, Nabi Ibrahim memohon dua hal. Pertama, keamanan. Kedua, rezeki bagi penduduk negeri tersebut.

Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya di tempat yang tidak ada siapa pun dan tidak memiliki pertanian. Makkah memang bukan tanah pertanian. Setelah itu ada beberapa orang datang dan menanam, tetapi Makkah dikenal sebagai pusat perdagangan, sedangkan Madinah dikenal sebagai daerah pertanian.

Dalam keadaan tidak ada apa pun di tempat itu, Nabi Ibrahim berdoa agar keluarganya dapat menegakkan shalat dan beribadah kepada Allah. Beliau memohon agar hati kaum muslimin condong kepada mereka dan agar Allah memberikan rezeki sehingga mereka bersyukur.

Doa pertama Nabi Ibrahim berisi permohonan keamanan ketika beliau hendak meninggalkan keluarganya. Beliau juga memohon faktor kedua, yaitu rezeki. Allah ‘Azza wa Jalla memang menjadikan Makkah bukan daerah pertanian, tetapi menjadikannya tempat yang tidak kekurangan buah-buahan. Banyak buah yang tidak tumbuh di Makkah tersedia di sana. Hal ini menunjukkan jawaban Allah atas doa Nabi Ibrahim tentang keamanan dan rezeki.

Dua Nikmat dalam Al-Qur’an: Aman dan Rezeki

Beberapa ayat menyebutkan dua kenikmatan besar, yaitu keamanan dan rezeki. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki penjelasan yang sangat mengena, mendalam, dan lengkap tentang berbagai kebutuhan manusia.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللَّهِ فَأَذَاقَهَا اللَّهُ لِبَاسَ الْجُوعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram; rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segala tempat. Akan tetapi, penduduknya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena itu, Allah menimpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl [16]: 112)

Kebaikan yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan sangat banyak. Namun, banyak manusia ketika mendapatkan kebaikan justru kufur, ingkar, dan lupa kepada Dzat yang memberikannya. Setelah itu, ia mengikuti syahwat dan keinginan dunia, kecuali orang-orang yang Allah kehendaki.

Di negeri ini, ada orang-orang yang dahulu berjuang mati-matian untuk mewujudkan keamanan dan rezeki. Setelah lama berada dalam penjajahan, kini nikmat aman dapat dirasakan. Jika para pendahulu menceritakan beratnya perjuangan mereka, hal itu mengingatkan untuk benar-benar bersyukur atas nikmat keamanan yang dirasakan sekarang.

Keamanan Membutuhkan Kekuatan

Allah ‘Azza wa Jalla terkadang menyebut keamanan bersamaan dengan kekuatan. Keamanan tidak akan tercapai kecuali dengan kekuatan.

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezeki, Pemilik kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 58)

Allah ‘Azza wa Jalla yang memberikan rasa aman adalah Dzat yang memiliki kekuatan. Keamanan tidak mungkin tercapai kecuali jika diberikan oleh Yang Maha Kuat.

Dalam Al-Qur’an, kekuatan fisik sering dilambangkan dengan penyebutan tentara, karena kekuatan seseorang biasa tampak pada kekuatan militernya.

أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَٰنِ ۚ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ ‎﴿٢٠﴾‏ أَمَّنْ هَٰذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ ۚ بَل لَّجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ ‎﴿٢١﴾‏

“Siapakah yang menjadi tentara bagimu yang dapat menolongmu selain Allah Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam keadaan tertipu. Siapakah yang dapat memberi rezeki kepadamu jika Dia menahan rezeki-Nya? Bahkan, mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.” (QS. Al-Mulk [67]: 20-21)

Tidak ada tentara yang mampu melawan Allah ‘Azza wa Jalla jika Allah melarang dan menahan mereka. Tidak ada pula yang dapat memberi rezeki ketika Allah menahannya. Namun, orang-orang kafir terus-menerus berada dalam kecongkakan dan kekufuran.

Di dalam Al-Qur’an terdapat satu surah pendek yang menggabungkan dua konsep penting ini, yaitu aman dan rezeki. Surah ini termasuk surah yang dihafal anak-anak kecil.

Jawaban yang benar adalah Surah Quraisy. Dalam surah yang pendek ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut kebiasaan kaum Quraisy melakukan perjalanan pada musim panas dan musim dingin. Pada musim panas mereka menuju Syam, sedangkan pada musim dingin mereka menuju Yaman.

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ‎﴿١﴾‏ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ‎﴿٢﴾‏ فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ ‎﴿٣﴾‏ الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ‎﴿٤﴾‏

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas, maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini, yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS. Quraisy [106]: 1-4)

Allah memerintahkan mereka menyembah Rabb Ka’bah, karena Allah telah memberi mereka rasa aman dan makanan ketika mereka kelaparan. Surah ini pendek, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menghimpun di dalamnya kebutuhan manusia di dunia.

Tiga Nikmat yang Seolah Menghimpun Dunia

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barang siapa di antara kalian memasuki waktu pagi dalam keadaan aman di tempatnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

Dalam Sunan At-Tirmidzi dengan sanad hasan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebut tiga nikmat besar: aman, sehat, dan memiliki nafkah untuk hari itu. Orang yang mendapatkan tiga nikmat ini seakan-akan dunia beserta isinya telah diberikan kepadanya.

Sebagian ulama menafsirkan kata sirb sebagai jiwa. Maknanya, seseorang merasa aman pada dirinya; ketika keluar rumah, ia tidak merasa takut. Sebagian ulama lain menafsirkannya sebagai rumah; seseorang merasa aman ketika berada di rumah dan ketika keluar masuk darinya. Ada pula yang menafsirkannya sebagai jalan; ketika berjalan, ia tidak khawatir diikuti dan tidak perlu terus-menerus menoleh ke kanan, kiri, depan, dan belakang.

Sebagian ulama menyatakan bahwa semua tafsir tersebut benar. Seseorang merasakan nikmat aman ketika kesehariannya tidak diliputi kekhawatiran akan diincar, rumahnya tetap aman saat ditinggalkan, dan perjalanannya tidak membuatnya harus terus mengawasi keadaan sekitar.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, makhluk terbaik, bersama para sahabatnya pada awal dakwah pernah mengalami keadaan tidak aman. Ketika hendak memasuki suatu rumah, mereka harus banyak menoleh dan mengawasi kanan serta kiri karena khawatir ada orang yang mengincar dan mengikuti. Hal ini mengingatkan bahwa keamanan adalah nikmat besar.

Dalam hadits disebutkan muafan fi jasadihi, yaitu seseorang mendapatkan kesehatan pada badannya. Dalam ungkapan Arab, kesehatan bagaikan mahkota di kepala orang sehat. Sayangnya, banyak orang tidak menyadari nikmat ini kecuali ketika sakit.

Orang yang sehat sering menyepelekan dan melalaikan nikmat sehat. Dahulu ada yang mengatakan bahwa untuk merasakan nikmat sehat, seseorang dapat pergi ke rumah sakit. Ketika melihat banyak orang sakit, ia baru menyadari bahwa dirinya berada dalam nikmat dan mengucapkan alhamdulillah atas nikmat sehat.

Sebagian ulama salaf juga mengatakan bahwa untuk merasakan nikmat Allah, seseorang dapat memejamkan mata. Saat ia berusaha berjalan dalam keadaan mata terpejam, ia akan mengetahui betapa besar karunia Allah berupa penglihatan.

Urwah bin Zubair rahimahullah, seorang tabiin, pernah mengalami sakit pada kakinya. Para dokter menyatakan bahwa penyakit itu berbahaya dan kakinya harus diamputasi. Mereka pun sepakat memotong kaki tersebut.

Setelah kakinya terputus dan tersisa satu, beliau juga mendapat kabar bahwa putranya meninggal. Dalam sebuah kisah disebutkan, ketika beliau memanggil putranya, anak itu tidak datang karena telah wafat.

Beliau berdoa kepada Allah bahwa jika Allah telah memanggil putranya, sebelumnya Allah telah memberinya kesempatan untuk selalu berinteraksi dengan putranya itu. Jika Allah telah mengambil kakinya, Allah masih menyisakan kesehatan pada anggota tubuh lain yang lebih banyak. Maka beliau tetap memuji Allah atas nikmat yang masih ada.

Faktor Pertama Keamanan: Tauhid

Setelah mukadimah tentang dua hal penting, yaitu keamanan dan rezeki, pembahasan masuk kepada beberapa faktor yang dapat merealisasikan keamanan bagi negeri. Faktor pertama adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu tidak menyembah kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Agar Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rasa aman dan keadaan aman kepada kita.

Ketika perhatian tertuju kepada tauhid, agama Allah, dan hak Allah yang paling agung, maka dengan izin Allah, keamanan akan diberikan. Ketika seseorang memperhatikan agama Allah, Allah pun akan memperhatikan keamanannya.

Kaidah ini diambil dari surah yang pendek, yaitu firman Allah Ta’ala yang memerintahkan kaum Quraisy agar menyembah Rabb Pemilik rumah ini.

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

“Maka hendaklah mereka menyembah Rabb Pemilik Ka’bah ini.” (QS. Quraisy [106]: 3)

Maknanya, manusia diperintahkan untuk menyembah Allah satu-satunya, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak melakukan kesyirikan sedikit pun.

Apabila seseorang shalat, hendaklah shalatnya untuk Allah. Apabila berdoa, hendaklah berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Apabila meminta, hendaklah meminta kepada Allah, bukan kepada makhluk, bukan kepada orang yang telah meninggal, dan bukan kepada seorang wali, meskipun ia shalih. Dengan tauhid seperti itulah Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rasa aman.

Tujuan Penciptaan Jin dan Manusia

Allah menyatakan bahwa jin dan manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)

Ibnu Abbas menafsirkan kata “ya’budun” dengan “يوحّدون في العبادة”, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.

Allah juga menyatakan bahwa Dia tidak meminta rezeki dari makhluk dan tidak meminta mereka memberi makan. Allah-lah Yang Maha Pemberi rezeki, Pemilik kekuatan yang sangat kokoh.

مَا أُرِيدُ مِنْهُم مِّن رِّزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَن يُطْعِمُونِ ‎﴿٥٧﴾‏ إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ ‎﴿٥٨﴾‏

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sungguh, Allah, Dialah Pemberi rezeki, Pemilik kekuatan yang kokoh.” (QS. Az-Zariyat [51]: 57-58)

Iman yang Tidak Dicampuri Kesyirikan

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa orang-orang beriman yang tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzaliman akan mendapatkan keamanan dan hidayah dari-Nya. Maknanya, mereka tidak mencampuradukkan iman dan tidak membatalkannya dengan kedzaliman apa pun.

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedzaliman, mereka itulah yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am [6]: 82)

Ketika para sahabat mendengar ayat ini, mereka merasa berat. Mereka memahami kedzaliman sebagai setiap kesalahan yang dilakukan seseorang. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian meluruskan pemahaman tersebut bahwa kedzaliman yang dimaksud adalah kesyirikan.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengingatkan mereka kepada perkataan hamba Allah yang saleh dalam surah Luqman bahwa kesyirikan adalah kedzaliman yang sangat besar.

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan benar-benar kedzaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13)

Kesimpulannya, orang yang mentauhidkan Allah adalah orang yang paling berhak mendapatkan keamanan dari Allah dan mendapatkan hidayah.

Janji Keamanan bagi Orang Beriman

Ayat berikutnya terdapat dalam surah An-Nur. Allah ‘Azza wa Jalla berjanji kepada orang-orang beriman bahwa mereka akan dijadikan pemimpin di bumi sebagaimana orang-orang sebelum mereka pernah berkuasa dan menjadi pemimpin. Allah juga akan mengganti rasa takut yang mereka alami dengan keamanan.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka; dan Dia sungguh akan mengganti keadaan mereka, setelah berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa. Selama mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun.” (QS. An-Nur [24]: 55)

Syarat janji tersebut adalah beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya sama sekali.

Kesyirikan Menghilangkan Rasa Aman

Sebagai lawannya, ayat kelima menjelaskan bahwa kesyirikan tidak akan berkumpul dengan rasa aman. Orang beriman mendapatkan keamanan, sedangkan orang yang melakukan kesyirikan akan diberi rasa takut oleh Allah.

سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ

“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir karena mereka mempersekutukan Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 151)

Rasa takut yang Allah ‘Azza wa Jalla masukkan ke dalam hati orang-orang musyrik terjadi karena mereka menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, orang yang melakukan kesyirikan tidak akan mendapatkan rasa aman.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan kisah ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan bersama para sahabat. Mereka membawa senjata. Ketika tiba waktu istirahat, masing-masing mencari tempat berteduh.

Para sahabat memilihkan tempat yang paling nyaman untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam agar beliau dapat beristirahat dan berteduh. Beliau melepaskan senjatanya dan menggantungkannya pada salah satu pohon, lalu tertidur.

Seorang Arab Badui datang dengan kekuatan badan dan hasad di hatinya. Ia mengambil pedang tersebut. Di hadapannya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur terlentang tanpa senjata.

“Ia berkata, ‘Wahai Muhammad, siapakah yang dapat melindungimu dariku sekarang?’ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Allah.’” (HR. Bukhari)

Rasa Takut yang Allah Tanamkan kepada Musuh

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya mengucapkan “Allah” saja. Seketika orang Kafir itu ketakutan, hingga pedang yang terhunus di tangannya terjatuh. Karena ia takut, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil kembali pedang itu, lalu menghunuskannya di hadapan orang tersebut.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melindunginya dari serangan beliau. Orang itu mengakui bahwa tidak ada yang dapat melindunginya, lalu meminta belas kasihan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun memaafkannya.

Poin penting dari peristiwa ini ialah bagaimana Allah mencampakkan rasa takut ke dalam hati orang kafir. Secara fisik ia kuat dan berada dalam posisi menang; orang yang dihadapinya sedang tidur dan tidak ada yang menjaga. Namun, ketika keimanan telah tertanam kuat dalam hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keadaan itu tidak mengurangi rasa aman beliau. Demikian pula iman di hati kaum mukminin apabila mereka benar-benar beriman.

Keberanian Para Dai Tauhid

Makna ini juga pernah tampak sepanjang sejarah. Disebutkan bahwa sekelompok kaum muslimin pada masa dahulu keluar dari negeri Arab untuk berdakwah dan menyebarkan tauhid di negeri Cina.

Mereka masuk ke negeri itu dan mengajak manusia bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Raja Cina ingin menghalangi mereka, tetapi tidak berani menghadapinya sendiri. Ia pun meminta pertolongan kepada kerajaan-kerajaan di sekitarnya untuk menghadapi rombongan juru dakwah dari kaum muslimin tersebut.

Namun, semua raja di sekitar negeri itu menolak. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak sanggup menghadapi sekelompok umat yang, seandainya hendak memindahkan gunung, niscaya mereka mampu melakukannya.

Karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menyampaikan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

 نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ

“Aku ditolong oleh Allah dengan rasa takut yang dicampakkan kepada musuh-musuhku sejauh perjalanan satu bulan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan contohnya seperti jarak yang jauh antara Makkah dan wilayah Syam, seperti Suriah sekarang. Musuh telah merasa takut sebelum kaum muslimin sampai di tengah mereka.

Ini termasuk bentuk keamanan besar yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada orang-orang beriman, hingga musuh mereka merasa takut. Ini juga menunjukkan bahwa iman yang dimiliki seseorang dapat membuat musuhnya gentar.

Faktor Kedua Keamanan: Akhlak yang Baik

Cara kedua untuk meraih rasa aman ialah akhlak yang baik. Ketika seseorang berinteraksi dengan saudaranya dengan akhlak yang baik, saudaranya merasa aman dari perbuatannya. Ia merasa aman saat bekerja sama, bertetangga, bekerja, atau berada di jalan.

Sebaliknya, jika akhlaknya buruk, orang lain tidak merasa terjamin ketika bermuamalah dengannya. Mereka khawatir terhadap keburukan akhlaknya.

Makna ini terdapat dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

…هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ ‎﴿٦٢﴾‏ وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ…

“Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin, serta mempersatukan hati mereka. Walaupun engkau menginfakkan semua yang ada di bumi untuk merukunkan semua orang, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, sampai Allah yang mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal [8]: 62-63)

Wasiat Nabi tentang Darah, Harta, dan Kehormatan

Ada satu hadits dan satu kisah pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang memuat makna pada poin kedua ini. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan wasiat ketika beliau akan meninggalkan umatnya. Pada Haji Wada’, beliau menyebutkan tiga hal dan mengulang-ulangnya:

 إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا وَكَحُرْمَةِ شَهْرِكُمْ هَذَا وَكَحُرْمَةِ بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram atas kalian (mulia/dilindungi, tidak boleh dilanggar), sebagaimana haramnya hari kalian ini, haramnya bulan kalian ini, dan haramnya negeri kalian ini.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara bentuk perhatian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tiga perkara ini beliau jadikan wasiat dalam haji beliau yang pertama sekaligus satu-satunya. Wasiat ini disampaikan sekitar delapan puluh hari sebelum beliau wafat. Beliau mengulanginya pada hari Arafah, hari raya, dan hari tasyrik. Karena memang rasa aman tidak mungkin tercipta kecuali apabila setiap individu dalam masyarakat saling memberi rasa aman kepada individu lainnya. Makna ini perlu disadari dan dipraktikkan di tengah masyarakat.

Kisah Nafi bin Azraq dan Imran bin Husain

Kisah yang dijanjikan adalah kisah yang disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah. Sanadnya dihasankan oleh Syekh Albani.

Ringkasnya, beberapa orang Khawarij menuduh para sahabat tidak melaksanakan jihad sebagaimana mestinya. Sebenarnya mereka ingin memberontak kepada pemerintah. Di antara tokoh mereka ialah Nafi bin Azraq. Di tengah kelompoknya, ia mengkafirkan para sahabat, sampai ia bertemu dengan seorang sahabat bernama Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhuma.

Nafi berkata kepada Imran, “Wahai Imran, engkau telah binasa.” Ia berdalil dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla tentang perintah memerangi kaum musyrikin sampai tidak ada fitnah dan agama menjadi milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menurutnya, mereka ingin melaksanakan ayat itu, tetapi para sahabat dianggap tidak mendukung mereka.

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ

“Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya bagi Allah.” (QS. Al-Baqarah [2]: 193)

Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhuma menjawab bahwa para sahabat telah melaksanakan kandungan ayat itu terhadap orang-orang musyrikin. Mereka telah memerangi kaum musyrikin dalam jihad-jihad mereka, bahkan sampai mengusir mereka.

Kemudian Imran berkata bahwa ia akan menyampaikan satu hadits yang ia dengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Nafi memastikan hal itu, lalu Imran menegaskan bahwa ia benar-benar mendengarnya langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Imran bin Husain Radhiyallahu ‘Anhuma bercerita bahwa suatu saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabat berjihad melawan kaum musyrikin. Pertempuran berlangsung sangat hebat, hingga kaum muslimin tampak menang. Salah seorang muslim berhasil menangkap seorang musyrik.

Ketika orang musyrik itu hendak ditusuk dengan tombak, ia mengucapkan syahadat dan menyatakan dirinya sebagai muslim. Namun, orang muslim tersebut tidak memercayainya. Ia menilai orang itu sebelumnya berada di barisan musyrikin dan menyerang kaum muslimin, lalu baru bersyahadat ketika hampir terbunuh. Akhirnya, ia tetap menusuknya hingga meninggal.

Ketika berita itu sampai kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau marah. Orang yang membunuh itu merasa celaka. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur, “Mengapa engkau tidak membelah perutnya agar engkau mengetahui niatnya ketika mengucapkan laa ilaaha illallah? Apakah ia benar-benar ikhlas atau hanya takut kepada senjatamu?”

Teguran itu menunjukkan bahwa ketika syahadat orang kafir yang masuk Islam tidak dipercaya, pembunuhnya telah melakukan kesalahan besar: ia membunuh seorang muslim.

Jasad yang Tidak Diterima Tanah

Singkat cerita, orang muslim yang membunuh orang kafir yang telah masuk Islam itu kemudian meninggal. Kaum muslimin menguburkannya. Namun, keesokan harinya jasadnya keluar dari kubur; tanah tidak menerimanya, seakan-akan ia belum dikuburkan sama sekali.

Para sahabat mengira musuh telah mengeluarkan jasad itu untuk merusak kehormatannya. Mereka lalu memerintahkan anak-anak kecil berjaga di kuburan, lalu jasad itu dikuburkan kembali. Keesokan harinya, jasad itu kembali tercampakkan keluar. Mereka mengira anak-anak kecil itu tertidur.

Setelah itu mereka berjaga sendiri di kuburan dan menguburkan jasad tersebut lagi. Akan tetapi, keesokan harinya jasad itu tetap keluar. Mereka pun menyadari bahwa hal itu adalah sesuatu yang Allah atur.

Penyebab jasad itu dicampakkan dan ditolak oleh tanah bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima jasad seorang muslim. Banyak jasad orang kafir tidak ditolak oleh tanah. Dalam hadits disebutkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla ingin menjelaskan betapa terhormatnya kalimat laa ilaaha illallah. Kalimat itu telah diucapkan, tetapi kemudian diterjang oleh orang tersebut.

Karena itu, kaum muslimin harus berhati-hati agar tidak mudah menyalahkan dan menyakiti sesama muslim. Ketika dalam hati seorang muslim ada laa ilaaha illallah, ia harus dihormati. Jangan sampai seseorang mudah menyalahkan, menyakiti, bahkan mengkafirkan.

Termasuk kesalahan besar ialah datang ke negeri kaum muslimin dengan klaim dakwah atau jihad, lalu sengaja membawa bom dan meledakkan diri dengan alasan memerangi orang kafir atau menegakkan jihad, hingga membunuh aparat militer atau polisi. Kisah ini menegaskan bahwa laa ilaaha illallah sangat agung. Allah menghargainya, dan Allah adalah sebaik-baik pemberi taufik.

Keamanan Bersama dan Larangan Memberontak

Tadi, yang dijelaskan adalah rasa aman untuk masing-masing individu. Pembahasan berikutnya adalah keamanan bersama. Para ulama menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan amar makruf nahi munkar. Namun, beliau juga melarang umatnya memberontak dan memerangi pemerintah kaum muslimin, meskipun pemerintah tersebut memiliki banyak kekurangan, selama mereka masih muslim.

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Jika ada pemerintah yang melakukan kemaksiatan, kaum muslimin wajib membenci kemaksiatan tersebut dan tidak menyukainya. Akan tetapi, kebencian itu tidak boleh membuat seseorang melepaskan ketaatan dan melakukan pemberontakan.

Apabila ada orang yang berkata bahwa pemerintah memiliki banyak kekurangan lalu mengajak untuk memerangi mereka, maka ajakan itu harus ditolak. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang hal tersebut.

Sebab Larangan Memerangi Penguasa Muslim

Pemimpin memiliki peran dalam menjaga rasa aman masyarakat. Memerangi penguasa muslim dapat menghilangkan keamanan bersama. Ketika terjadi pemberontakan, rakyat berada dalam keadaan tidak stabil. Bahkan orang-orang baik dapat terbunuh akibat kesalahan orang lain. Dengan demikian, keamanan pun hilang.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Mp3 Kajian Tabligh Akbar Sebab-Sebab Terwujudnya Keamanan Negeri dan Rakyat

Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link download tabligh akbar “Sebab-Sebab Terwujudnya Keamanan Negeri dan Rakyat” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56441-sebab-sebab-terwujudnya-keamanan-negeri-dan-rakyat/